Sebuah latar berisi empat sosok terbagi tembok, udara segar tak berpenghuni pada sekat, kosong tak tersentuh karena saling membelakangi dalam lingkaran, bergerak memulai hari, membuka mata, menyiapkan hidup. Jika yang satu sedang bercerita, ketiga yang lain membatu sesaat. Begitu seterusnya mereka bergiliran satu persatu, memperkenalkan hidupnya dengan pujian kepada pagi, hidup yang awalnya sekilas tampak biasa-biasa saja tetapi diam-diam ada yang tak biasa. Mari berkenalan!
Sosok I: Alangkah indah ini pagi, kicau burung, udaranya dijamin bikin anti stres, apalagi yang di atas sana itu, sedikit menyilaukan memang, tapi bagus buat kulit, vitamin D, hidup yang sehat tak beradikal bebas!
Sosok II:Alangkah indah ini pagi, pikir punya pikir, tak ada yang cacat, nyaris mendekati sempurna. Bangun tidur, mandi dan berganti pakaian: bersih, rapi, trendy, dan wangi! Makan secukupnya, roti selai cokelat atau stroberi dan segelas teh manis yang hangat.
Sosok III: Alangkah indah ini pagi, baru saja tadi aku buka mata, membuka tirai jendela, langsung saling tatap, beradu pandang dengan si dia. Susah memang kalau main hati sama tetangga sebelah. Tapi, memang benar kata teori di buku, paras yang elok rupawan itu bukan buatan, harus ketika si dia masih kusut baru bangun dari tidur dan belum sempat dandan, yang alami tanpa rekayasa kimia.
Sosok IV: Hidup adalah wajah Adam yang coreng-moreng, masih mending kalau hanya terlempar gara-gara keluhan minta betina, tetapi ini lain soal
Sosok III: Kau sedang mengigau?
Sosok I: My friend is sleepy head!
Sosok II: Are you alright? Kau terlihat pucat, kau demam?
Sosok I: Asal jangan kau mulai kepingin bernyanyi saja, tak enak, ini masih terlalu pagi
Sosok III: Kau jangan buka mulut pokoknya, nanti dicap melanggar kode etik, di-blacklist, sebutan subversif pasti melekat, nanti kita tambah diasingkan
Sosok II: Kau jadi tampak beda. Ini akibatnya kalau kau terlalu percaya sama yang tertulis di buku. Buku hanya melahirkan dongeng ksatria yang epik sekaligus berdebu
Sosok I: Mengkomedikan tragedi sepertinya asyik, membadut bahkan melacur tak jadi soal. Ayolah dinamis saja dalam menyikapi hidup. Berdiri tegak satu malam terkepal. Pagi hanyalah sebuah lonceng pemberian dari penduduk langit buat penduduk hitam bumi untuk mulai melata dan menggeliat. Tanda bagi dimulainya sebuah rutinitas dan pasrah pada hal-hal yang sulit dimengerti, tak terjelaskan lewat kata. Gaib memang. Ah, jangan harapkan hidup jadi sempurna, aku adalah rokok yang dihisap habis tinggal abu.
Sosok IV: Tenang kawan, jangan berlebih, aku hanya sedang
Sosok I: Sedang tidak enak badan kan? Cuma itu saja tapi repotnya bukan main, kau ini lelaki, sudah dewasa pula, jadi jangan cengeng, jangan pula kau jadi bayi pemalas, pagi itu harusnya bersemangat, mana rasa hormat dan terimakasihmu pada gambar pahlawan di lembaran rupiah?
Sosok II: Kau hanya terlalu keras dalam hidup, jangan terlalu dijadikan beban, pikiran yang memberatkan meski dikasih sedikit sebuah pencerahan, udara segar biar terlihat kekar
Sosok III: Apa ini perihal asmara? Mabuk kepayang? Kau mesti kirim surat yang sebelumnya disemprot penuh wewangian: one, two, three, prot sudah siap, tinggal diantarkan ke alamat tujuan via merpati berwarna putih, waduh, sedap betul pasti ketika si dia sudah tak kuat menahan tembang asmaradana, menunggu kabar dengan perasaan campur aduk tak sabaran di balkon dengan jendela terbuka. Gelisah menanti. Tapi harus ingat, mesti kau beri password, nanti bisa disadap
Keempat sosok tersebut mulai bergerak, mula-mula berjalan seperti manusia peradaban terkini, dengan segala produk tercanggih, mereka tampak sibuk, tampak asyik sendiri-sendiri, tersesat di ironi manisnya bebunyian kota. Kemudian mereka jalan membungkuk, persis manusia purba, dengan perkakas untuk pemenuhan hidup seadanya, mereka berputar membentuk lingkaran, tarian rimba liar belum terjamah, memuja perayaan perjamuan, menjaga api ketika malam di hutan. Lalu mereka melompat-lompat, bersuara seperti kodok tetapi bernada, bersahutan memanggili hujan.
Kodok I: Memang beginilah hidup sekarang, mesti tahan, mesti sering-sering ngelus dada
Kodok II: Kau menangis apa sedang sakit mata?
Kodok III: Ritual sudah dinyanyikan, ini sudah mendung, tunggu sebentar lagi, hujan pasti turun
Kodok IV: Hujan memang enak, daratan jadi berair, aku jadi berdebar-debar
Kodok I: Ketika hujan turun semua jadi satu, tidak dua seperti kita
Kodok III: Dua yang menghimpit, sesak yang bikin bingung, jadi tak kenal pada apa, siapa, bagaimana, kenapa, ke mana, dari mana, mau apa, entah, terlalu banyak tanya yang bergelantungan di kolong langit yang diam membisu. Kita jadi membatu, semakin ditumbuhi lumut jika ingat mesti berbuat seperti apa sebaiknya: bijak menerima atau mencak-mencak mempertanyakan kembali, mengerti tiap lekuk diri saja sulitnya tak tertolong, tak tahu mesti berbuat apa.
Kodok II: Apa yang kita baca, apa yang kita percaya pada iklan di papan sepanjang jalan, kadang-kadang bikin frustrasi dengan badan sendiri. Mereka berbahasa seperti mesin. Bagaimana cara mengakhirinya?
Kodok I: Mati?
Kodok III: Jangan terlalu picik, mendahului nasib bukan solusi yang pas, meskipun sebenarnya aku salut karena kekaburannya yang minta ampun, batas tak jelas antara konyol, nekat, dan perasaan tak berdaya. Gila ada karena perbedaan sudut pandang dan di luar kotak nalar lusuh yang ada, ramalan tak lagi jadi barang penuh kejutan, ramalan hanya sebuah permainan kanak-kanak yang lucu
Kodok IV: Benar, jangan terlampau naif, hujan adalah anugerah bagi mereka yang masih merasa ada aliran darah yang mendesir kala Adam bertemu Hawa.
Kodok I: Seperti bocah yang iseng?
Kodok II: Kurang lebihnya ya begitu, polos tanpa tendensi, kompas, ataupun hitung-hitungan, harga tak jadi soal yang penting puas di pelarian akhir pekan
Kodok IV: Sekedar turut suami begitu?
Kodok III: Sekedar turut naluri, na-lu-ri
Kodok II: Pasti masih ada yang memberatkan
Kodok IV: Tentunya, manusia itu seperti kodok
Kodok I: Manusia itu hobi loncat-loncat dan menyukai aroma tanah yang basah sehabis hujan!
Kodok III: Awas kelebu, teberak antu banyu
Kodok II: Putri duyung, tak mau dugong
Kodok IV: Perlu biduk, angkat jangkar, bentangkan layar
Kodok I: Hujan tak cuma-cuma, ada harganya, koin dengan gambar beda di kedua sisi
Kodok II: Hujan keburu menenggelamkan tempat kita berpijak sebelum sempat lihat pelangi, perlu sekoci dan kembang api
Kodok IV: Hujan menawarkan cerita cinta, betapa agungnya sebuah percintaan di dalam air
Kodok III: Kau itu manusia apa kodok? Kau mau taruh di mana telurmu? Apa kau mau tinggalkan begitu saja? Bagaimana nasib mereka selanjutnya?
Kodok I: Manusia itu kodratnya menyusui
Kodok II: Mamalia tidak sama dengan Reptilia
Kodok IV: Goblok, apa kau tak kenal televisi? Ada juga reptil yang menjaga telurnya
Kodok I: Aku sepakat kali ini, daratan berbahaya bagi para telur
Kodok III: Kau kodok jika biarkan telur-telurmu tercecer terlalu lama di air
Kodok II: Kita mesti banyak-banyak dan sering-sering bertelur, alam semakin tidak bersahabat, langit semakin jahat membisiki gerak ombak, telur-telur terpilih, kesayangan ibu bapak
Kodok I: Telur-telur yang kuat
Kodok IV: Telur-telur yang sehat
Kodok III: Telur-telur yang selamat
Kodok II: Telur-telur yang hebat
Kodok-kodok itu menyanyi dan menari memohon keselamatan kepada Tuhan untuk anak dan cucu mereka. Mereka berdoa seirama sebelum mereka memejamkan mata
Kodok I: Sudah malam, saatnya tidur
Kodok III: Ada badai Kapten dari arah pukul nol-nol!
Kodok IV: Lipat layar, turunkan jangkar!
Kodok II: Pelabuhan sial, sudah jauh di seberang tambah ada kabut pula!
Para Kodok: Perhatian, perhatian, waktu telah habis, kepada pemain pengganti dipersilahkan untuk memasuki lapangan pertandingan, penonton tak mau menunggu!
Minggu, 16 Mei 2010
Kamis, 01 April 2010
Sebuah Kabar: Langkah Awal FESTAMASIO V
Kepada Seluruh Komunitas Teater Kampus Se-Indonesia
Sesuai kesepakatan Rembug Koteka di UIN Syarif Hidayatullah (pada Festamasio IV di Jakarta): Festival Teater Mahasiswa Nasional V Insyaallah akan dilaksanakan pada Januari 2011 di Palembang (Universitas Sriwijaya, UKM Teater GABI '91), dengan tema "Eksistensi Teater Kampus di Daerah"
Kriteria peserta:
1. Murni Teater Kampus (bukan jurusan Sendratasik dan Sekolah Tinggi/Institut Seni)
2. Murni berstatus sebagai Mahasiswa (melampirkan fotokopi Kartu Mahasiswa)
3. Naskah pementasan merupakan karya sendiri/asli (bukan saduran/adaptasi)
4. Durasi Pementasan 60 - 90 menit
5. Rekaman pementasan (dalam bentuk CD @ 4 buah) serta dokumentasi pendukung lainnya untuk menggambarkan seberapa besar eksistensi teater kampus di daerah masing-masing: kegiatan-kegiatan dalam kerangka melestarikan seni dan budaya lokal, ikut berperan aktif dalam kontrol perkembangan situasi di seluruh bidang kehidupan (sosial, politik dan lain-lain dari sisi humanisme) dari tahun 2007 - 2010.
Nominasi Pemenang:
1. Sutradara Terbaik
2. Aktor dan Aktor Pendukung Terbaik
3. Penulis Naskah Terbaik
4. Penata Artistik Terbaik
5. Grup Teater Terbaik
Untuk keterangan lebih jelasnya lagi, akan kami beri kabar selanjutnya...
NB: Kebijakan panitia sewaktu-waktu dapat berubah
Salam Budaya,
Ketupel Festamasio V
Sesuai kesepakatan Rembug Koteka di UIN Syarif Hidayatullah (pada Festamasio IV di Jakarta): Festival Teater Mahasiswa Nasional V Insyaallah akan dilaksanakan pada Januari 2011 di Palembang (Universitas Sriwijaya, UKM Teater GABI '91), dengan tema "Eksistensi Teater Kampus di Daerah"
Kriteria peserta:
1. Murni Teater Kampus (bukan jurusan Sendratasik dan Sekolah Tinggi/Institut Seni)
2. Murni berstatus sebagai Mahasiswa (melampirkan fotokopi Kartu Mahasiswa)
3. Naskah pementasan merupakan karya sendiri/asli (bukan saduran/adaptasi)
4. Durasi Pementasan 60 - 90 menit
5. Rekaman pementasan (dalam bentuk CD @ 4 buah) serta dokumentasi pendukung lainnya untuk menggambarkan seberapa besar eksistensi teater kampus di daerah masing-masing: kegiatan-kegiatan dalam kerangka melestarikan seni dan budaya lokal, ikut berperan aktif dalam kontrol perkembangan situasi di seluruh bidang kehidupan (sosial, politik dan lain-lain dari sisi humanisme) dari tahun 2007 - 2010.
Nominasi Pemenang:
1. Sutradara Terbaik
2. Aktor dan Aktor Pendukung Terbaik
3. Penulis Naskah Terbaik
4. Penata Artistik Terbaik
5. Grup Teater Terbaik
Untuk keterangan lebih jelasnya lagi, akan kami beri kabar selanjutnya...
NB: Kebijakan panitia sewaktu-waktu dapat berubah
Salam Budaya,
Ketupel Festamasio V
Rabu, 31 Maret 2010
Selasa, 30 Maret 2010
Road to GABI EXPO!!!!!
Setelah suskes melaksanakan dua pementasan dalam jangka waktu yang berdekatan, yaitu Pentas Awal Tahun (PAT) " Resto Bang Tossip", and Pentas Kreatif(PK) "Mat Jebot",kini ada satu lagi agenda UKM Teater GABI'91 yang pastinya bakal mengguncang bulan April 2010!! Apalagi kalau bukan GABI EXPO.Yupz, agenda yang satu ini bekal aksis lagi di daftar agenda Gabi'91 setelah lima tahun vakum.But, it's okey!!Karena tahun ini,kita semua bakal menyukseskan kegiatan yang nantinya akan menjadi batu loncatan plus menambah semangat kita untuk menjadi tuan rumah FESTAMASIO V. so, mari bersibuk-sibuk ria lagi!!satukan emosi lagi!dan terus berkarya untuk gabi'91!
GABI EXPO: Ado apo??
ada beberapa kegiatan yang direncanakan mengisi GABI EXPO tahun ini. Selain pertunjukan teater oleh anggota gabi, juga akan ada lomba puisi dan lomba teater tingkat SMP/SMA. Eitz...ndak hanya itu, dalam kesempatan ini juga akan diadakan kegiatan temu anak teater dari berbagai teater di Sumsel untuk mensosialissikan FESTAMASIO V!!
GABI EXPO: smangaddddddddddddd!!!!
KITA SEMUA BISA, KITA SEMUA MAMPU, AND KITA SEMUA PERCAYA!!so, usir semua keraguan!! Teruslah semangat!!Teruslah belajar!!teruslah berkarya!!
GAIBBAGIGABI
GABI EXPO: Ado apo??
ada beberapa kegiatan yang direncanakan mengisi GABI EXPO tahun ini. Selain pertunjukan teater oleh anggota gabi, juga akan ada lomba puisi dan lomba teater tingkat SMP/SMA. Eitz...ndak hanya itu, dalam kesempatan ini juga akan diadakan kegiatan temu anak teater dari berbagai teater di Sumsel untuk mensosialissikan FESTAMASIO V!!
GABI EXPO: smangaddddddddddddd!!!!
KITA SEMUA BISA, KITA SEMUA MAMPU, AND KITA SEMUA PERCAYA!!so, usir semua keraguan!! Teruslah semangat!!Teruslah belajar!!teruslah berkarya!!
GAIBBAGIGABI
Minggu, 13 Desember 2009
persiapan utk membuat karya baru...
siap berproses............
bulatkan niat dan tekad...
jaga kesehatan...
ciptakan kenyaman...
kuatkan kebersamaan...
jalani proses...
bulatkan niat dan tekad...
jaga kesehatan...
ciptakan kenyaman...
kuatkan kebersamaan...
jalani proses...
Rabu, 11 Maret 2009
festamasio IV
Festamasio I Kalimantan Timur, Teater Yupa
Festamasio II Makassar, Teater Titik Dua
Festamasio III DI Yogyakarta, Teater Gajah Mada
Festamasio IV DKI Jakarta, Teater Syahid
Festamasio V??????????????????????????????????????????
Festamasio II Makassar, Teater Titik Dua
Festamasio III DI Yogyakarta, Teater Gajah Mada
Festamasio IV DKI Jakarta, Teater Syahid
Festamasio V??????????????????????????????????????????
Langganan:
Komentar (Atom)


