Minggu, 16 Mei 2010

Diary Amphibi

Sebuah latar berisi empat sosok terbagi tembok, udara segar tak berpenghuni pada sekat, kosong tak tersentuh karena saling membelakangi dalam lingkaran, bergerak memulai hari, membuka mata, menyiapkan hidup. Jika yang satu sedang bercerita, ketiga yang lain membatu sesaat. Begitu seterusnya mereka bergiliran satu persatu, memperkenalkan hidupnya dengan pujian kepada pagi, hidup yang awalnya sekilas tampak biasa-biasa saja tetapi diam-diam ada yang tak biasa. Mari berkenalan!

Sosok I: Alangkah indah ini pagi, kicau burung, udaranya dijamin bikin anti stres, apalagi yang di atas sana itu, sedikit menyilaukan memang, tapi bagus buat kulit, vitamin D, hidup yang sehat tak beradikal bebas!

Sosok II:Alangkah indah ini pagi, pikir punya pikir, tak ada yang cacat, nyaris mendekati sempurna. Bangun tidur, mandi dan berganti pakaian: bersih, rapi, trendy, dan wangi! Makan secukupnya, roti selai cokelat atau stroberi dan segelas teh manis yang hangat.

Sosok III: Alangkah indah ini pagi, baru saja tadi aku buka mata, membuka tirai jendela, langsung saling tatap, beradu pandang dengan si dia. Susah memang kalau main hati sama tetangga sebelah. Tapi, memang benar kata teori di buku, paras yang elok rupawan itu bukan buatan, harus ketika si dia masih kusut baru bangun dari tidur dan belum sempat dandan, yang alami tanpa rekayasa kimia.

Sosok IV: Hidup adalah wajah Adam yang coreng-moreng, masih mending kalau hanya terlempar gara-gara keluhan minta betina, tetapi ini lain soal

Sosok III: Kau sedang mengigau?

Sosok I: My friend is sleepy head!

Sosok II: Are you alright? Kau terlihat pucat, kau demam?

Sosok I: Asal jangan kau mulai kepingin bernyanyi saja, tak enak, ini masih terlalu pagi

Sosok III: Kau jangan buka mulut pokoknya, nanti dicap melanggar kode etik, di-blacklist, sebutan subversif pasti melekat, nanti kita tambah diasingkan

Sosok II: Kau jadi tampak beda. Ini akibatnya kalau kau terlalu percaya sama yang tertulis di buku. Buku hanya melahirkan dongeng ksatria yang epik sekaligus berdebu

Sosok I: Mengkomedikan tragedi sepertinya asyik, membadut bahkan melacur tak jadi soal. Ayolah dinamis saja dalam menyikapi hidup. Berdiri tegak satu malam terkepal. Pagi hanyalah sebuah lonceng pemberian dari penduduk langit buat penduduk hitam bumi untuk mulai melata dan menggeliat. Tanda bagi dimulainya sebuah rutinitas dan pasrah pada hal-hal yang sulit dimengerti, tak terjelaskan lewat kata. Gaib memang. Ah, jangan harapkan hidup jadi sempurna, aku adalah rokok yang dihisap habis tinggal abu.

Sosok IV: Tenang kawan, jangan berlebih, aku hanya sedang

Sosok I: Sedang tidak enak badan kan? Cuma itu saja tapi repotnya bukan main, kau ini lelaki, sudah dewasa pula, jadi jangan cengeng, jangan pula kau jadi bayi pemalas, pagi itu harusnya bersemangat, mana rasa hormat dan terimakasihmu pada gambar pahlawan di lembaran rupiah?

Sosok II: Kau hanya terlalu keras dalam hidup, jangan terlalu dijadikan beban, pikiran yang memberatkan meski dikasih sedikit sebuah pencerahan, udara segar biar terlihat kekar

Sosok III: Apa ini perihal asmara? Mabuk kepayang? Kau mesti kirim surat yang sebelumnya disemprot penuh wewangian: one, two, three, prot sudah siap, tinggal diantarkan ke alamat tujuan via merpati berwarna putih, waduh, sedap betul pasti ketika si dia sudah tak kuat menahan tembang asmaradana, menunggu kabar dengan perasaan campur aduk tak sabaran di balkon dengan jendela terbuka. Gelisah menanti. Tapi harus ingat, mesti kau beri password, nanti bisa disadap

Keempat sosok tersebut mulai bergerak, mula-mula berjalan seperti manusia peradaban terkini, dengan segala produk tercanggih, mereka tampak sibuk, tampak asyik sendiri-sendiri, tersesat di ironi manisnya bebunyian kota. Kemudian mereka jalan membungkuk, persis manusia purba, dengan perkakas untuk pemenuhan hidup seadanya, mereka berputar membentuk lingkaran, tarian rimba liar belum terjamah, memuja perayaan perjamuan, menjaga api ketika malam di hutan. Lalu mereka melompat-lompat, bersuara seperti kodok tetapi bernada, bersahutan memanggili hujan.

Kodok I: Memang beginilah hidup sekarang, mesti tahan, mesti sering-sering ngelus dada

Kodok II: Kau menangis apa sedang sakit mata?

Kodok III: Ritual sudah dinyanyikan, ini sudah mendung, tunggu sebentar lagi, hujan pasti turun

Kodok IV: Hujan memang enak, daratan jadi berair, aku jadi berdebar-debar

Kodok I: Ketika hujan turun semua jadi satu, tidak dua seperti kita

Kodok III: Dua yang menghimpit, sesak yang bikin bingung, jadi tak kenal pada apa, siapa, bagaimana, kenapa, ke mana, dari mana, mau apa, entah, terlalu banyak tanya yang bergelantungan di kolong langit yang diam membisu. Kita jadi membatu, semakin ditumbuhi lumut jika ingat mesti berbuat seperti apa sebaiknya: bijak menerima atau mencak-mencak mempertanyakan kembali, mengerti tiap lekuk diri saja sulitnya tak tertolong, tak tahu mesti berbuat apa.
Kodok II: Apa yang kita baca, apa yang kita percaya pada iklan di papan sepanjang jalan, kadang-kadang bikin frustrasi dengan badan sendiri. Mereka berbahasa seperti mesin. Bagaimana cara mengakhirinya?

Kodok I: Mati?

Kodok III: Jangan terlalu picik, mendahului nasib bukan solusi yang pas, meskipun sebenarnya aku salut karena kekaburannya yang minta ampun, batas tak jelas antara konyol, nekat, dan perasaan tak berdaya. Gila ada karena perbedaan sudut pandang dan di luar kotak nalar lusuh yang ada, ramalan tak lagi jadi barang penuh kejutan, ramalan hanya sebuah permainan kanak-kanak yang lucu

Kodok IV: Benar, jangan terlampau naif, hujan adalah anugerah bagi mereka yang masih merasa ada aliran darah yang mendesir kala Adam bertemu Hawa.

Kodok I: Seperti bocah yang iseng?

Kodok II: Kurang lebihnya ya begitu, polos tanpa tendensi, kompas, ataupun hitung-hitungan, harga tak jadi soal yang penting puas di pelarian akhir pekan

Kodok IV: Sekedar turut suami begitu?

Kodok III: Sekedar turut naluri, na-lu-ri

Kodok II: Pasti masih ada yang memberatkan

Kodok IV: Tentunya, manusia itu seperti kodok

Kodok I: Manusia itu hobi loncat-loncat dan menyukai aroma tanah yang basah sehabis hujan!

Kodok III: Awas kelebu, teberak antu banyu

Kodok II: Putri duyung, tak mau dugong

Kodok IV: Perlu biduk, angkat jangkar, bentangkan layar

Kodok I: Hujan tak cuma-cuma, ada harganya, koin dengan gambar beda di kedua sisi

Kodok II: Hujan keburu menenggelamkan tempat kita berpijak sebelum sempat lihat pelangi, perlu sekoci dan kembang api

Kodok IV: Hujan menawarkan cerita cinta, betapa agungnya sebuah percintaan di dalam air

Kodok III: Kau itu manusia apa kodok? Kau mau taruh di mana telurmu? Apa kau mau tinggalkan begitu saja? Bagaimana nasib mereka selanjutnya?

Kodok I: Manusia itu kodratnya menyusui

Kodok II: Mamalia tidak sama dengan Reptilia

Kodok IV: Goblok, apa kau tak kenal televisi? Ada juga reptil yang menjaga telurnya

Kodok I: Aku sepakat kali ini, daratan berbahaya bagi para telur

Kodok III: Kau kodok jika biarkan telur-telurmu tercecer terlalu lama di air

Kodok II: Kita mesti banyak-banyak dan sering-sering bertelur, alam semakin tidak bersahabat, langit semakin jahat membisiki gerak ombak, telur-telur terpilih, kesayangan ibu bapak

Kodok I: Telur-telur yang kuat

Kodok IV: Telur-telur yang sehat

Kodok III: Telur-telur yang selamat

Kodok II: Telur-telur yang hebat

Kodok-kodok itu menyanyi dan menari memohon keselamatan kepada Tuhan untuk anak dan cucu mereka. Mereka berdoa seirama sebelum mereka memejamkan mata

Kodok I: Sudah malam, saatnya tidur

Kodok III: Ada badai Kapten dari arah pukul nol-nol!

Kodok IV: Lipat layar, turunkan jangkar!

Kodok II: Pelabuhan sial, sudah jauh di seberang tambah ada kabut pula!

Para Kodok: Perhatian, perhatian, waktu telah habis, kepada pemain pengganti dipersilahkan untuk memasuki lapangan pertandingan, penonton tak mau menunggu!